3/06/2011

Spermatogenesis & Oogenesis

>> subject: Biologi Dasar <<

Spermatogenesis & Oogenesis

Spermatogenesis
Pembentukan sperma (spermatogenesis) dimulai dari pembelahan mitosis sel-sel induk sperma (spermatogonium) beberapa kali hingga dihasilkan lebih banyak spermatogonium. Setengah dari sel-sel spermatogonium tersebut terus melanjutkan pembelahan mitosis, sedangkan setengah yang lain membesar menjadi spermatosit primer. Karena pembentukan spermatosit primer melalui pembelahan mitosis, maka hasilnya memiliki kromosom diploid (2n) sama dengan spermatogoniumnya. Spermatosit primer berikutnya membelah secara meiosis (tahap I) menghasilkan spermatosit sekunder, dengan kondisi kromosom haploid (n). Spermatosit sekunder melanjutkan pembelahan meiosis (tahap II) menghasilkan dua sel yang juga haploid, yang disebut spermatid, sehingga diperoleh 4 spermatid. Sel-sel spermatid akan mengalami diferensiasi (perubahan bentuk) menjadi sel spermatozoa atau sperma. Perubahan itu meliputi pembentukan kepala, badan (bagian tengah), dan ekor (flagella). Peristiwa pembentukan sperma ini disebut dengan spermiogenesis.

Jika peristiwa pembentukan sperma ini sudah selesai maka protein pengikat androgen tidak diperlukan, sehingga sel Sertoli akan menghasilkan hormone inhibin untuk memberikan umpan balik supaya hipofisis menghentikan produksi ICSH dan LH. Spermatozoa yang telah terbentuk akan dapat sampai ke uretra (saluran keluar dari penis) jika dibantu oleh cairan yang dihasilkan oleh vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar Cowper (glandula bulbouretralis). Cairan yang dihasilkan vesikula seminalis ini berfungsi membantu spermatozoa agar mudah bergerak, memberi nutrisi, dan menormalkan keasaman pH saluran reproduksi wanita saat terjadi kopulasi. Spermatozoa bersama cairan tersebut disebut dengan istilah semen atau air mani. Saat kopulasi (hubungan intim), seorang laki-laki dapat mengeluarkan sekitar 350 sampai 360 juta sel sperma dalam setiap 3 ml air mani / semen.

Struktur sperma terdiri dari bagian berikut:
  1. Kepala, mengandung inti sel: pada bagian ujungnya terdapat akrosom yang dibentuk dari badan Golgi. Akrosom menghasilkan enzim yang berfungsi membantu sperma menembus sel telur.
  2. Bagian tengah (midpiece): terdapat mitokondria tempat berlangsungnya oksidasi sel untuk membentuk energi sehingga sperma dapat bergerak aktif.
  3. Ekor: sebagai alat gerak sperma agar mencapai ovum.
Setelah sperma terbentuk, sperma tersebut kemudian akan mengalir ke saluran pengumpul yang disebut epididimis. Dari epididimis, sperma meninggalkan testis melalui vas deferens, kemudian ditampung dalam kantong sperma (vesikula seminalis). Dari kantong sperma, sperma dialirkan memalui saluran penyembur (duktus ejakulatoris). Sperma mendapat tambahan cairan dari kelenjar prostat. Cairan prostat merupakan medium sperma, yang memberi makan sperma dan menjaga pH sperma.

Gambar 1: Proses pembentukan sperma (Spermatogenesis)

Hormon-hormon yang mempengaruhi proses pembentukan sperma (spermatogenesis):
  1. Hormon Gonadotropin
Dihasilakn oleh hipotalamus (dibagian dasar dari otak) yang merangsang kelenjar hipofisis bagian depan (anterior) agar mengeluarkan hormone ICSH dan LH.
  1. ICSH (Intestitial Cell Stimulating Hormone)
Berfungsi mempengaruhi dan merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein / Protein Pengikat Androgen) yang memacu pembentukan sperma.
  1. LH (Luteinizing Hormone)
Berfungsi merangsang sel-sel interstisial (sel Leydig) ahar mensekresikan hormon testosteron (androgen).
  1. Hormon Testosteron
Dihasilakn oleh testis, yang berfungsi merangsang perkembangan organ seks primer pada saat embrio belum lahir, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder misalnya jambang, kumis, jakun, suara membesar, serta memelihara ciri-ciri kelmin sekunder dan mendorong terjadinya spermatogenesis.

Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pembentukan sel telur / ovum di dalam ovarium. Ovarium mengalami pertumbuhan sejak fase embrio hingga dewasa. Ovarium di dalam tubuh embrio mengandung sekitar 600.000 buah sel induk telur yang disebut oogonium. Pada saat embrio berumur lima bulan, oogonium memperbanyak diri secara mitosis, membentuk kurang lebih sekitar 7 juta oosit primer. Pada saat embrio berumur enam bulan, oosit primer sedang berada dalam tahap meiosis (profase I). Setelah itu terjadi pengurangan jumlah oosit primer sampai embrio lahir. Pada saat lahir dua ovarium mengandung 2 juta oosit primer. Selanjutnya oosit primer yang sedang berada pada tahap membelah tersebut istirahat sampai akhirnya tiba masa pubertas. Pada waktu anak berusia 7 tahun jumlahnya mengalami penyusutan lagi hingga menjadi sekitar antara 300.000 – 400.000 oosit primer. Oogonium dan oosit ini terdapat dalam folikel telur. Folikel adalah sel-sel pembungkus ovum yang penuh dengan cairan. Folikel yang tumbuh memiliki tahap pertumbuhan sejak dari folikel primer, sekunder sampai tersier. Perubahan folikel ini dikendalikan oleh FSH. Pada saat menjelang ovulasi, folikel tersier berubah membentuk folikel de Graaf.
Setelah masuk masa pubertas, seorang anak perempuan akan mengalami menstruasi / haid. Saat itu hipofisis anak perempuan mampu menghasilakn FSH, dan oosit primer yang terbentuk melanjutkan pembelahan meiosis I-nya, menghasilkan 2 sel yang ukurannya tidak sama. Sel yang berukuran besar disebut dengan oosit sekunder, dan yang berukuran kecil disebut badan polar pertama. Penyelesaian tahap meiosis I sekitar menjelang ovulasi. Oosit sekunder melanjutkan tahapan meiosis II dan berhenti pada metaphase II. Jadi, pada saat ovulasi, yang dikeluarkan bukan ovum melainkan oosit sekunder pada metaphase II. Jika tidak terjadi pembuahan oleh sperma, oosit sekunder akan mati. Sebaliknya, jika terjadi pembuahan oleh sperma, oosit sekunder akan melengkapi tahapan meiosis II. Hasilnya adalah satu sel yang besar disebut ootid dan satu sel yang kecil disebut badan polar kedua. Sedangkan badan polar pertama menghasilkan 2 badan polar yang lain. Pada saat menjelang terjadinya peleburan inti sel telur denga inti sperma, ootid berkembang menjdi ovum (sel telur). Sedangkan ketiga badan polar yang menempel pada ovum tidak berfungsi dan berdegenerasi. Dengan demikian hasil oogenesis adalah sel ovum yang besar dan tiga sel badan polar yang menempel di ovum.

Gambar 2: Proses pembentuka n sel telur (Ooogenesis)
Seperti halnya spermatogenesis, oogenesis juga dipengaruhi oleh beberapa hormon yakni sebagai berikut:
  1. FSH, berperan merangsang pengeluaran hormon testosteron pada pria dan esterogen pada wanita.
  1. LH, berperan dalam pembentukancorpus luteum (badan kuning) di dalam ovarium setelah terjadinya ovulasi.
  1. Esterogen, berperan dalam proses pembentukan ovum dan pembentukan sifat-sifat kelamin sekunder pada wanita dan merangsang produksi lh dan menghambat produksi fsh.
  1. Progesteron, berfungsi dalam proses pembentukan lapisan endonetrium pada dinding uterus untuk menerima ovum yang telah mengalami fertilisasi.
  1. Oksitosin, berperan dalam merangsang kontraksi awal otot uterus saat proses kelahiran (partus).
  1. Relaksin, berperan dalam merangsang ligamen pelvis melakukan relaksasi pada saat proses kelahiran berlangsung.
  1. Laktogen, bersama-sama progesteron merangsang kelenjar mamae untuk menghasilkan asi.
p.s.: pls take out with full credit
Nisa, A. 2011. Spermatogenesis & Oogenesis accessed from http://anniesfile.blogspot.com/2011/03/spermatogenesis-oogenesis.html

Labels:

0 Comments:


Read this first before proceeding, cause it's important.
So this is how i roll, mate.
1. You don't spam on my comment section.
2. You don't ask for something under my property (for example, codes or photos).
3. You don't come and object all the shits i said in my posts, cause it's MY opinion and thinking.
4. You don't bitch around like you do on other websites.
5. Last of all, be nice. Cause i will give you twice whatever you give to me.

Post a Comment