3/05/2011

Leukosit (Sel Darah Putih)

>> subject: Biologi Dasar II <<

Leukosit (Sel Darah Putih)

Sel darah putih atau leukosit merupakan bagian sel-sel darah yang berfungsi untuk menyerang mikrob pathogen, seperti bakteri, virus dan jamur. Dalam menjalankan tugasnya, leukosit adakalanya keluar dari pembuluh darah atau menembus dinding kapiler. Peristiwa keluarnya leukosit dari pembuluh darah ini dinamakan diapedesis. Selain itu leukosit juga berfungsi untuk membersihkan sel-sel yang telah mati atau luruhan dari jaringan tubuh.

Jumlah leukosit jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan eritrosit. Pada laki-laki dan perempuan dewasa, setiap mm³ darahnya hanya terdapat 4.500 sampai 10.000 sel. Leukosit memiliki ciri yang berbeda dengan eritrosit, misalnya selnya transparan, tidak memiliki haemoglobin, dan dapat bergerak bebas (amoeboid). Jika dilihat dalam mikroskop cahaya, maka sel darah putih memiliki granula spesifik (granulosit) yang dalam keadaan hidup berupa tetesan-tetesan setengah cair dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi. Namun terdapat pula leukosit yang tak bergranula dengan sitoplasma homogen, inti berbentuk bulat (menyerupai ginjal) dan bervariasi. Leukosit dapat dibedakan atas leukosit granulosit dan leukosit agranulosit. Leukosit granulosit merupakan kelompok leukosit yang memiliki struktur granula dalam plasmanya. Granula tersebut sebenarnya adalah suatu lisosom yang berisi enzim-enzim pencernaan yang berfungsi untuk merusak partikel-partikel yang ditelan secara fagositosis. Fagositosis merupakan salah satu mekanisme untuk melawan serangan penyakit yang disebabkan oleh mikrob. Leukosit granulosit terdiri dari tiga macam yakni neutrofil, eosinofil (asidofil) dan basofil, dimana ketiga jenis leukosit ini dapat dibedakan dengan afinitas granula terhadap zat warna, apakah netral, asam ataukah basa. Granula dianggap spesifik bila ia secara tetap terdapat dalam jenis leukosit tertentu dan pada sebagian besar precursor (pra zat)nya. Sedangkan leukosit agranulosit merupakan kelompok leukosit tanpa granula yang dibedakan menjadi dua mcam yakni monosit dan limfosit. Limfosit memiliki struktur sel kecil dengan sitoplasma sedikit, sedangkan monosit memiliki ukuran sel yang lebih besar dan mengandung sitoplasma lebih banyak.

Pada dasarnya, perbedaan bentuk morfologi pada kedua jenis leukosit ini (leukosit granulosit dan leukosit agranulosit) adalah didasarkan pada komponen dan susunan zat yang dikandungnya, namun yang paling mendasari perbedaan ini adalah fungsi dari masing-masing sel leukosit tersebut. Tentu berdasarkan fungsinya, masing-masing sel dari leukosit ini memiliki bentuk spesifik yang berbeda-beda antara sel yang satu dengan sel yang lainnya. Berikut akan diuraikan fungsi dari masing-masing sel leukosit tersebut.

1.    Leukosit Granulosit
·         Neutrofil
Neutrofil merupakan sel yang paling banyak di antara sel-sel lainnya, yaitu sekitar 60 sampai 70%. Pada saat terjadi infeksi, misalnya oleh bakteri, jumlah neutrofil menjadi meningkat sehingga dapat mencapai 10.000 sampai 15.000 atau 20.000 sel per mm³ darah. Bahkan dalam kondisi yang ekstrem, jumlah neutrofil dapat mencapai 50.000 sel per mm³ darah. Garis tengah sekitar 12 um, dengan satu inti dan 2-5 lobus. Sitoplasma banyak diisi oleh granula-granula spesifik (0,3 – 0.8 um) yang mendekati batas resolusi optik, berwarna salmon pink oleh campuran jenis romanovky. Granula pada neutrofil ada dua yakni :
1.  Azurofilik yang mengandung enzim lisosom dan peroksidase.
2. Granula spesifik dengan ukuran lebih kecil serta mengandung fosfatase alkali dan zat-zat bakterisidal (protein Kationik) yang dinamakan fagositin.
Neutrofil jarang mengandung retikulum endoplasma granuler, sedikit mitokonria, apparatus Golgi rudimenter dan sedikit granula glikogen. Neutrofil merupakan garis depan pertahanan seluler terhadap invasi jasad renik, menfagosit partikel kecil dengan aktif. Adanya asam amino D oksidase dalam granula azurofilik penting dalam proses pencernaan dinding sel bakteri. Selama proses fagositosis dibentuklah peroksidase. Mieloperoksidase yang terdapat dalam neutrofil berikatan dengan peroksida dan halida yang bekerja pada molekul tirosin dinding sel bakteri dan menghancurkannya. Di bawah pengaruh zat toksik tertentu seperti streptolisin toksin streptokokus, membrane granula-granula neutrofil pecah dan mengakibatkan proses pembengkakan yang diikuti oleh aglutulasi organel-organel dan destruksi neutrofil.
Neotrofil mempunyai metabolisme yang sangat aktif dan mampu melakukan glikolisis baik secara aerob maupun anaerob. Kemampuan neutrofil untuk hidup dalam lingkungan anaerob sangat menguntungkan, karena mereka dapat membunuh bakteri dan membantu membersihkan debris pada jaringan nekrotik. Fagositosis oleh neutrofil merangsang aktivitas heksosa monofosfat shunt serta meningkatkan glikogenolisis.

·         Eosinofil
Eosinofil bejumlah sekitar 2 atau 3% dari jumlah leukosit. Mempunyai garis tengah 9um (sedikit lebih kecil dari neutrofil). Inti biasanya berlobus dua, retikulum endoplasma, mitokonria dan apparatus Golgi kurang berkembang. Mempunyai granula ovoid dengan eosin asidofik, granula pada eosinofil adalah lisosom yang mengandung fosfatae asam, katepsin, dan ribonuklease. Eosinofil mempunyai pergerakan amuboid, dan mampu melakukan fagositosis, lebih lambat tapi lebih selektif dibandingkan dengan neutrofil. Eosinofil memfagositosis kompleks antigen dan antibodi, ini merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif terhadap komplek antigen dan antibodi. Eosinofil mengandung profibrinolisin, yang diduga berperan dalam proses pembekuan darah, khususnya bila keadaan cairnya diubah oleh proses-proses patologi. Kortikosteroid akan menimbulkan penurunan jumlah eosinofil darah dengan cepat. Eosinofil juga dapat meningkat jumlahnya terutama untuk beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh alergi dan parasitis, misalnya penyakit cacing tambang dan trikinosis.

·         Basofil
Basofil merupakan sel leukosit yang memiliki kemampuan untuk berikatan dengan zat warna basa (metilen biru). Jumlahnya berkisar antara 0,5 sampai 1% dari jumlah leukosit keseluruhan. Ukuran garis tengahnya sekitar 12um dan berinti satu. Sitoplasma basofil berisi granula yang lebih besar, dan seringkali granula ini menutupi inti dari basofil itu sendiri, granulanya berbentuk ireguler, berwarna metakromatik, dengan campuran jenis romanovsky dan tampak menyerupai lembayung. Granula basofil bersifat metakromatik dan mensekresi histamin dan heparin. Heparin inilah yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pembekuan di dalam pembuluh darah. Dalam keadaan tertentu, basofil merupakan sel utama  yang berada pada tempat peradangan yang disebabkan oleh infeksi mikrob/bakteri, keadaan ini dinamakan hypersesitivitas kulit basofil. Hal ini menunjukkan basofil mempunyai hubungan kekebalan.

2.    Leukosit Agranulosit
·         Limfosit
Limfosit merupakan sel-sel leukosit kedua terbanyak setelah neutrofil, yaitu sekitar 20 sampai 25% dari seluruh jumlah leukosit. Limfosit merupakan sel yang sferis, dengan garis tengah 6 - 8um. Limfosit memiliki inti yang relatif besar, berbentuk bulat dengan sedikit cekungan pada satu sisi, kromatin inti padat, dan anak intinya baru terlihat dengan electron mikroskop. Sitoplasma sedikit, dan mengandung granula-granula azurofilik. Selnya berwarna ungu dengan campuran romanovsky, mengandung ribosom bebas dan poliribosom. Klasifikasi lainnya dari limfosit terlihat dengan ditemuinya tanda-tanda molekuler khusus pada permukaan membran sel-sel tersebut. Beberapa diantaranya membawa reseptor seperti imunoglobulin yang mengikat antigen spesifik pada membrannya. Limfosit dalam sirkulasi darah normal dapat berukuran 10-12um, ukuran yang lebih besar ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah sitoplasma. Kadang-kadang disebut dengan limfosit berukuran sedang. Sel limfosit yang berukuran besar terdapat dalam kelenjar getah bening dan akan tampak dalam darah dalam keadaan Patologis, pada sel limfosit besar ini inti vaskuler dengan anak inti yang jelas. Limfosit-limfosit dapat digolongkan  berdasarkan asalnya, struktur, surface markers yang berkaitan dengan sifat imunologis, siklus hidup dan fungsinya. Limfosit dapat dibedakan menjadi dua macam yakni limfosit B dan limfosit T. Limfosit B berfungsi untuk pembentukan antibodi dan terletak di ruas-ruas tulang belakang, sedangkan limfosit T diduga berfungsi untuk menghancurkan sel-sel yang terserang oleh virus dan terletak di kelenjar timus.

·         Monosit
Monosit merupakan sel-sel leukosit yang bersifat fagositosis dan berukuran paling besar dibanding dengan sel-sel leukosit lainnya. Berjumlah 3-8% dari jumlah leukosit normal, dengan diameter 9-10 um tetapi pada sediaan darah kering diameternya dapat mencapai 20um atau lebih. Inti biasanya eksentris dan terdapat lekukan yang dalam berbentuk tapal kuda. Kromatin kurang padat, susunan lebih fibriler dan ini merupakan sifat tetap monosit. Sitoplasma relatif banyak dengan pulasan wrigh berupa biru abu-abu. Granulanya azurofil yang merupakan lisosom primer, lebih banyak tapi lebih kecil. Ditemukan pula reticulum endoplasma sedikit, ribosom, poliribosom, serta banyak mitokondria. Apa ratus Golgi berkembang dengan baik, ditemukan mikrofilamen dan terdapat mikrotubulus pada daerah inti. Monosit tergolong fagositik mononuklear (sistem retikuloendotelium) dan mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan membrannya sebagai tempat imunoglobulin dan komplemennya.
Monosit beredar melalui aliran darah, menembus dinding kapiler masuk kedalam jaringan penyambung. Monosit biasanya bersifat aktif dan dapat bergerak berputar di dalam aliran darah pada kecepatan tinggi. Monosit termasuk salah satu bagian alat pertahanan tubuh untuk melawan kuman seperti, kuman penyebab TBC, tifus, dan malaria. Sel ini dapat bergerak seperti amoeba dengan menjulurkan kaki palsunya untuk membungkus serpihan jaringan yang disebabkan oleh infeksi, sel yang sudah tua, atau pathogen lainnya.

Tipe
Gambar
Diagram
% dalam tubuh manusia
Keterangan
65%
Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah.
4%
Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit.
<1%
Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan.
25%
Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit:
*         Sel B: Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori'.)
*         Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV) sarta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD8+ (sitotoksik) dapat membunuh sel yang terinfeksi virus.
*         Sel natural killer: Sel pembunuh alami (natural killer, NK) dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi virus atau telah menjadi kanker.
6%
Monosit membagi fungsi "pembersih vakum" (fagositosis) dari neutrofil, tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas tambahan: memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga patogen tersebut dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk menjaga.
(lihat di atas)
Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia meninggalkan aliran darah serta masuk ke dalam jaringan.

Jadi kesimpulannya leukosit dan turunannya (leukosit grnulosit: neutrofil, basofil, eusinofil dan leukosit agranulosit: monosit dan limfosit) merupakan sel dan struktur dalam tubuh manusia yang didistribusikan keseluruh tubuh dengan fungsi utamanya melindungi organisme terhadap invasi dan pengrusakan oleh mikro organisme dan benda asing lainnya. Sel-sel leukosit ini, mempunyai kemampuan untuk membedakan dirinya sendiri (makromolekuler organisme sendiri) dengan sesuatu yang bukan dirinya (benda asing) dan mengatur penghancuran serta inaktivasi dari benda asing yang mungkin merupakan molekul yang terisolasi atau bagian dari mikro organisme. Semua leukosit berasal dari sum-sum tulang yang kemudian mengalami kematangan pada organ limfoid lainnya.
p.s.: please take out with full credit
Nisa, A. 2009. Leukosit (Sel Darah Putih) diakses dari http://anniesfile.blogspot.com/2011/03/leukosit-sel-darah-putih.html

Labels:

0 Comments:


Read this first before proceeding, cause it's important.
So this is how i roll, mate.
1. You don't spam on my comment section.
2. You don't ask for something under my property (for example, codes or photos).
3. You don't come and object all the shits i said in my posts, cause it's MY opinion and thinking.
4. You don't bitch around like you do on other websites.
5. Last of all, be nice. Cause i will give you twice whatever you give to me.

Post a Comment